Takmir Statusnya Sebagai Pelayan Jamaah Bukan Penguasa Masjid


Sebagai jalan untuk melakukan ikhtiar dalam memakmurkan masjid, peran serta  seorang takmir akan sangat menentukan fungsinya. Fungsi takmir tak ubahnya pelayan jamaah masjid bukan penguasa masjid.



Ustadz Rosidi Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta saat menjadi narasumber dalam kegiatan dialog Strategi Makmurkan Masjid Pengurus Wakil Cabang (PWC) ISNU dan MWCNU Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, Minggu (11/3) di aula Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng menyatakan bahwa 
“Takmir itu statusnya ialah pelayan jamaah, bukan penguasa masjid."

Disampaikannya di depan puluhan peserta acara dialog ini. Menurutnya salah satu peran dan fungsi seorang takmir sudah dilakukan jauh hari sebelumnya di sebuah masjid Jogokariyan Yogyakarta. Selain sebagai fungsi, seharusnya juga bisa dijadikan prinsip seorang takmir dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai takmir.

 "Jadi nanti bisa dilihat hasilnya jika peran serta fungsi takmir sebagai pelayan jamaah bisa diterapkan dengan baik," ujarnya.
Selanjutnya, peran takmir masjid endaknya tak hanya berfokus pada bagaimana fisik masjid yang megah saja. Karena fisik masjid juga harus diukur sesuai dengan kebutuhan jamaahnya. Fokus objek yang sebenarnya lebih penting adalah tentang pembinaan terhadap para jamaahnya. 

"Takmir masjid jangan hanya fokus pada fisik masjid, tapi fokus pada jamaahnya, membina jamaah dan lain sebagainya. Fisik masjid tetap disesuaikan dengan kebutuhan jamaah," pungkasnya.

Sebagai pelayan jamaah masjid, seorang takmir harus memberikan perhatian yang lebih, khususnya dalam hal melayani segala kebutuhan yang berkaitan langsung dengan upaya pemakmuran masjid.

Untuk menjaga keamanan masjid dan barang-barang yang dimiliki masjid, nadhir dibenarkan menutup pintu masjid sebagai langkah antisipasi. Masjid sebagai tempat beribadah harus terjaga kesuciannya, oleh benda najis yang tidak boleh ada yang masuk ke dalam masjid.

Jika terlihat najis di dalam masjid, maka harus segera disucikan, adapun membawa sandal ke dalam masjid, sebagaimana yang umum terjadi, hukumnya diperbolehkan apabila terjaga dari najis. Dengan cara dibungkus atau dibersihkan terlebih dahulu.

Menurut para ulama’ mengajarkan anak – anak kecil di masjid hukumnya adalah diperbolehkan, dengan syarat harus menjaga mereka dari ramai-ramai, bermain dan mengotori masjid. Demikian juga makanan – makanan atau membagi makanan di dalam masjid. Pada dasarnya adalah diperbolehkan, kecuali apabila mengakibatkan kotornya masjid.

Seyikh Muhammad bin Abdurrohman mengatakan : dan telah berlaku kebiasaan disebagian daerah, melaksanakan seperti hataman qur’an di dalam masjid, dan membagi-bagikan kopi manisan dan sesamanya. Juga terdapat anak - anak kecil, sehingga menyebabkan kotornya masjid. Yang demikian ini hukumnya adalah haram. Meskipun bershodaqoh sendiri adalah bagian dari ibadah.

Akan tetapi apabila bersamaan dengan hal yang diharamkan maka dapat menjadi haram hukumnya. Dan jika mau menyelenggarakan acara tersebut, serta membagi-bagi shodaqoh, maka harus terjaga dari hal-hal yang diharamkan dalam masjid. Yakni mengotori masjid, tidak menghormati masjid dan anak kecil beramai-ramai di masjid. Lalu beliau berkata : sekiranya pembagian kopi atau manisan dan sesamanya dapat mengundang kehadiran anak anak kecil.

Sehingga merusak kehormatan masjid, maka orang yang melaksanakan acara ini berdosa, karna perbuatan yang menyebabkan kemaksiatan tergolong perbuatan yang maksiat. Dan wajib bagi yang mampu untuk menjcegahnya, untuk mencegah. Apabila dengan kehadirannya menybabkan hilang kemungkaran ini, maka harus mendatanginya atau melarangnya, dan jika ia tidak mampu mencegahnya, maka haram untuk mendatanginya.

Selanjutnya beliau berkata : dan berdosa para orang tua yang membiarkan anaknya merusak kehormatan masjid dengan bermain, ramai-ramai seperti umumnya anak-anak zaman sekarang.(ini sesuai dengan keterangan kitab Umadatu Al-mufti wa al-mustafti).



Post a Comment

0 Comments