Tahukah Anda Menggendong Anak Itu Mampu Mencerdaskannya?

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk....

SEBELUM wafat, Almarhum Mbah Surip pernah mengatakan bahwa lagu hitsnya yang berjudul “Tak Gendong” itu mengandung pesan filosofis tentang prinsip kegotongroyongan dan tolong-menolong.  Tentu saja jika memang pesannya demikian,  sungguh almarhum patut diacungi dua jempol atas pemikiran fundamental dan sosialistis dalam kehidupan bersama yang ia suarakan lewat lagu simpel “Tak Gendong” itu.

Dan tepat pula ketika di dalam lagu itu, seniman gaek dan gimbal itu menyinggung soal sebuah sensasi rasa ketika seseorang sedang digendong: “enak dong! mantap toh!” Begitu kata Mbah Surip.

Nah, pada kesempatan ini, saya akan menguraikan tentang arti penting perkara “gendong-menggendong” itu, terutama dikaitkan aktivitas menggendong anak, baik bayi maupun balita.

Para Yanda dan Bunda, ketika aktivitas menggendong itu Anda terapkan pada anak, maka sesungguhnya aktivitas itu tak sekedar menciptakan sensasi rasa pada anak yang digendong seperti disebutkan oleh Mbah Surip dalam lagunya itu. Namun bisa lebih jauh dari itu.

Selama ini menggendong bayi atau menggendong anak merupakan salah satu kegiatan merawat anak yang keberadaannya telah setua peradaban manusia. Meskipun sependek pembacaan saya, belum ada studi khusus yang mengupas tentang sejarah menggendong anak dari masa ke masa, namun agaknya manusia-manusia penghuni pertama di kolong jagad ini sejak awal telah menggendong anak-anak keturunanan mereka dalam proses perawatan dan pengasuhan sehari-hari. Dan tampaknya memang menggendong anak itu sejenis insting paling purba dari orang tua dalam konteks pengasuhan anak.

Hasrat orang tua untuk menggendong anaknya boleh jadi disain perilaku kodrati dari Tuhan. Artinya, ia sebentuk naluri alamiah pemberian Tuhan yang melekat, yang menjadi salah satu modal dasar bagi manusia untuk mengaktualisasikan perasaan kasih sayang kepada sang buah hatinya. Jika toh memang demikian, maka menjadi sangat sulit dipahami jika ternyata ada orang tua mengaku sayang pada anaknya, namun jarang atau malah tak pernah sekalipun menggendong anaknya.

Sejalan dengan pemikiran Mbah Surip sebelumnya, sebenarnya setiap anak sangat menikmati saat-saat digendong. Bagi setiap anak,  mendapati dirinya sedang digendong itu laksana duduk di atas awan. Mungkin bagi bayi dan balita, sensasi digendong itu mengingatkannya pada kondisi “tanpa gravitasi”—mengambang sempurna dalam “lautan” air ketuban—ketika dirinya masih berupa janin di dalam rahim sang ibu.

Bukan hanya bayi yang suka digendong, akan tetapi anak yang agak lebih besar pun seringkali minta digendong karena memang digendong itu enak. Dalam intensitas permintaan yang jauh lebih rendah, adakalanya salah satu pihak dari pasangan suami-istri juga minta digendong. Sehingga jangan lantas para suami merasa aneh atau riskan, jika tiba-tiba sang istri dengan manja meminta untuk digendong.

Bagi anak-anak yang agak sedikit sudah dewasa, biasanya mereka menyukai digendong di pundak (gendong belakang). Namun seiring bertambahnya usia anak, dan seiring makin banyak aktivitas yang mampu dilakukannya secara mandiri, biasanya seorang anak merasa malu jika digendong.

Menggendong anak bisa dilakukan dengan beragam cara atau gaya. Namun semua cara itu mengarah pada satu tujuan: melekatkan anak ke dalam buaian kasih sayang dan perlindungan dari orangtua maupun para pengasuhnya terhadap dirinya.

Cara menggendong paling otentik tentu dengan tangan kosong. Menggendong dengan alat bantu, semisal kain, munculnya belakangan. Seiring perkembangan modern, insting orang tua untuk menggendong bayinya pun akhirnya “dilirik” secara cerdik oleh pihak industri garmen dan mode. Mereka kini menyediakan beragam jenis alat gendongan, dengan beragam variasi, gaya bahkan fungsi khususnya.

Lantas, apa kaitan antara anak yang digendong dengan kecerdasan si anak yang bersangkutan? Atau dengan pertanyaan lain, bagaimana penjelasannya bahwa menggendong anak itu menjadi salah satu bagian dari upaya melejitkan potensi kecerdasan anak?

Berikut beberapa penjelasan saya terkait hal itu:

⇒Dengan digendong, akan membuat bayi semakin jarang menangis. Dengan begitu, akan semakin banyak waktu dan tenaga digunakan oleh dirinya untuk proses tumbuh-kembangnya lebih lanjut. Sehingga proses pembelajaran dirinya terhadap beragam. Hal pun akan jauh semakin optimal, bahkan maksimal.

‎⇒Dengan digendong, secara neurologis membuat bayi berada pada posisi yang memungkinkannya  bergerak merespon dekapan yang diterimanya itu. Misalnya dengan memegang tangan atau pundak penggendongnya.

Jika respon-respon itu terakumulasi, akan menjadi bekal bagi perkembangan kecerdasan kinestetiknya lebih lanjut. (Terkait aktifitas gerak kinestetik pada anak,  periksa tulisan saya yang lain berjudul “Mengapa Bergerak itu Mencerdaskan Anak?)

⇒ Dengan digendong, membuat bayi semakin banyak berinteraksi dengan lingkungannya. Ini berarti pula akan semakin kaya rangsangan citra-citra audia, visual,  dan kinestetik yang tertangkap oleh sistem inderanya. Yang perlahan tapi pasti akan direspon ataupun dicoba untuk dimengerti dan dipahaminya. Yang pada gilirannya koneksi-koneksi baru dalam jaringan neuronnya pun lebih cepat terbentuk ketimbang bayi yang lebih banyak digeletakkan di tempat tidur oleh orang tuanya, yang membuat sang bayi lebih banyak melotot hampa ke arah atap.

Dan bayi yang digendong, akan jauh lebih memiliki kepekaan penglihatan (visual), selain kepekaan sistem pendengarannya (auditori) serta ketedampilan motorik dan kinestetiknya mampu jauh lebih baik ketimbang si “anak kasur”.

⇒ Dengan digendong, bayi akan belajar terlibat pada aktifitas yang dilakukan pengasuhnya. Bayi pun akan peka pada apa yang dikatakan pengasuhnya saat mengendongnya. Semua pengalaman itu laksana himpunan cuplikan-cuplikan film pendek yang turut dibintanginya.

“Film-film” itu disimpan di dalam memori otaknya. Pada kesempatan lain ia akan mencoba “menyetel” ulang film-film itu, lagi dan lagi. Hingga akhirnya pemahamannya menjadi lebih baik tentang segala hal yang telah disimpan di dalam otaknya.

⇒ Dengan digendong, bayi punya kebebasan memilih tentang apa yang ingin dan tak ingin dilihatnya. Bila ada yang ingin dilihatnya, maka perhatiannya pun akan terfokus ke sana. Dan bila ia tak ingin melihatnya, dengan mudah ia pun memalingkan pandangannya.

Kemampuannya memilih fokus perhatian, merupakan salah satu landasan bagi proses belajarnya yang efektif. Dan secara tak langsung, hal tersebut merupakan sebentuk upaya penanaman “pelajaran berdemokrasi” sedini mungkin dalam bentuk pilihan otonom bagi sang buah hati.

Dari beberapa penjelasan yang saya sebutkan di atas, maka bagi saya menggendong merupakan sejenis intuitive parenting yang sesuai (compatible) dengan kebutuhan keluarga modern yang senantiasa berhasrat kuat memiliki anak yang akan menjadi generasi baru yang cerdas di kemudian hari. Saya rasa aktivitas menggendong anak sebagai salah satu warisan masa lampau takkan pernah lekang oleh jaman. Bahkan dalam aktifitas menggendong anak, setidaknya ada terselip sebuah visi keluarga, visi para Yanda dan Bunda,  yang jauh ke depan,  yakni untuk membentuk anak yang cerdas.

Nah, mengingat besarnya manfaat menggendong anak sebagaimana disebutkan tersebut, maka janganlah para orangtua ragu untuk melakukannya terhadap anak Anda. Gendonglah anak Anda setiap waktu ada kesempatan, dengan segenap curahan cinta dan kasih sayang Anda terhadapnya. Meski terhadap bayi baru, Anda tetap harus hati-hati melakukannya.

Jikapun di malam-malam spesial ternyata pasangan Anda, wahai para Yanda dan Bunda, pun minta digendong manja dan memang memungkinkan untuk  Anda gendong,  maka mengapa tidak melakukannya?

Selamat mengendong-ria,  para pasangan muda.

Salam Anak Nusantara. 


Oleh: Nanang Djamaludin*
*Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN),  Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak


0 Response to " Tahukah Anda Menggendong Anak Itu Mampu Mencerdaskannya?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

| PENERBIT PT MERDEKA MULTI MEDIA | CREATIVE 3M Media