Prabowo "Boikot' Media Mainstream, Pengamat: Bukti Kubu Prabowo Lebih Pede Hadapi Pilpres 2019

BERITAJOGJA.NET ■ Kandidat Capres Prabowo Subianto kemarin mengejutkan para wartawan, pasalnya dia menolak diwawancara dengan media mainstream atau media massa besar. Peristiwa itu terlihat saat Prabowo usai menghadiri acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta.

Alasan penolakan itu, karena media besar dinilai tidak lagi obyektif dalam menyampaikan  informasi secara utuh, misalnya saat ada aksi reuni 212, Prabowo menyebut ada media yang menyampaikan pemberitaan acara hanya di hadiri 30 ribu peserta. Padahal, fakta dilapangan jutaan massa hadir di Monas.

Aksi ini adalah kali kedua kubu Prabowo boikot media yang dinilai tak obyektif. Sebelumnya, kubu Prabowo juga memboikot saluran televisi swasta Metro TV karena pemberitaan yang disampaikan tidak berimbang dan hanya memihak lawan politiknya.

Menanggapi hal ini, Abdul Kadir Karding, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin menilai kekuatan Prabowo-Sandi saat ini berada di media sosial, sehingga sering kali mengabaikan media massa mainstream.

Menurut Karding, pihak lawan lebih sering melakukan propaganda melalui media sosial ketimbang di media massa mainstream.

"Trendnya saat ini seperti itu," kata Karding, kemarin, seraya menambahkan agar masyarakat perlu cermat memilah informasi yang didapat dari media sosial.

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Dr Syarif Husein mengaku tak terkejut atas langkah Prabowo yang menolak wawancara dengan beberapa media nasional, kemarin. Pasalnya, kubu Prabowo lebih cerdas membaca trend publik yang mayoritas menguasai media sosial.

"Setidaknya, ada dua fakta pelajaran berharga kenapa Prabowo mengabaikan Media Mainstream. Fakta pertama, Ahok terjungkal walaupun didukung media mainstream dan dana yang cukup besar. Dan fakta kedua, acara reuni akbar 212 berlangsung sukses super dahsyat tanpa media besar. Inilah faktor yang menjadi spirit kekuatan kubu Prabowo, saat ini," katanya, kamis (6/12).

Direktur Inapro ini menganalisa bahwa kedepan kubu Prabowo akan lebih mengandalkan kekuatan media sosial, utamanya dalam mensosialisasi program visi misi dan propaganda lainnya. 

"Trend masyarakat era milenial saat ini sangat memungkinkan kekuatan medsos yang berada di tangan rakyat dengan mudah dapat melawan arus informasi publik, dan beberapa fakta event besar skala nasional pun membuktikan hal itu dapat tumbang oleh power of medsos," pungkasnya.

Selain itu, imbuh Syarif, kalau pun kemarin Prabowo menolak wawancara tak hanya disebabkan oleh karena rasa geram Prabowo pada media nasional yang kurang obyektif dalam menyampaikan informasi. "Dalam sudut pandang yang lain, saya menilai inilah bukti bahwa kubu Prabowo lebih pede hadapi Pilpres 2019," tutupnya.

 ■ Sri Wigati / Fajar Irianto

0 Response to "Prabowo "Boikot' Media Mainstream, Pengamat: Bukti Kubu Prabowo Lebih Pede Hadapi Pilpres 2019"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

| PENERBIT PT MERDEKA MULTI MEDIA | CREATIVE 3M Media