Spirit 212, Spirit Perubahan


Spirit 212, Spirit Perubahan

Oleh: Abu Amally

Perayaan Reuni 212 sudah berakhir. Namun sederet catatan penting telah meninggalkan bekas yang sangat mendalam di relung hati para peserta. Adakah dia seorang ulama, pejabat maupun rakyat biasa. Adakah dia seorang muslim maupun non muslim. Adakah dia muslim Indonesia maupun manca negara.

Bahkan mereka yang tidak sejalan dengan aksi 212 pun menyimpan sederet catatan perasaan yang tidak mudah untuk dilupakan sepanjang hidup mereka.

Inilah LEVEL PERTAMA yaitu LEVEL PERASAAN.

Pada level ini semua pihak terlarut dalam perasaan mereka masing masing. Ada yang merasa haru dan sedih. Ada yang merasa bangga dan bahagia. Ada pula yang merasa kagum dan terpesona. Bahkan tidak sedikit pula yang merasa benci dan geram.

Pada level ini tidak ada perubahan mendasar. Penista Al Qur'an pada tahun 2016 telah mendapat hukuman . Namun tidak ada satupun yang bisa membuktikan bahwa si penista benar telah menjalani masa hukumannya.

Para Ulama dan Habaib masih saja dipersekusi, dikriminalisasi dan ormas Islam HTI yang menjadi pemantik sehingga si penista mendapat hukuman belum juga dikembalikan sebagai ormas terdaftar , padahal pengadilan telah terbukti gagal membuktikan kesalahan yang dituduhkan.

Dan dalam Reuni 212 tahun 2018 ini pun tidak jauh berbeda pasca perayaan.

Pembakar Bendera Tauhid yang menganggap Panji Rasulullah sebagai bendera HTI, masih tetap mendapat hukuman yang tidak layak yaitu hanya kurungan penjara sepuluh hari dan denda seharga karcis parkir Rp. 2000.

Kriminalisasi terhadap Habib Riziq , Habib Bahar, Gus Nur dan Ulama lainnya tetap saja terjadi . Bahkan terkesan mereka sebagai monster yang harus dihilangkan dari bumi Indonesia.

Dan sederet persoalan lain , seperti dana haji, BPJS, pengangguran dan tenaga kerja asing,  ancaman eksploitasi aseng dan asing , teror OPM dan lainnya sama sekali tidak ada solusi pasti.

 Karena pada level perasaan ini hanya bersifat temporer sesaat. Bila apa yang diinginkan peserta telah didapatkan maka berpuas hatilah mereka. Kemudian kembali ketempat asal mereka masing masing untuk melanjutkan rutinitas sebelumnya, seakan aksi 212 tersebut tidak pernah terjadi.

Mereka akan tergerak kembali bila nanti ada kejadian yang sama atau lebih besar lagi.

Mereka berkumpul bersama karena memiliki perasaan yang sama.

Bila hanya berhenti pada level ini maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi Syuriah kedua.

LEVEL KEDUA ADALAH PEMIKIRAN DAN PEMAHAMAN.

Pada level ini umat Islam  sudah mulai berfikir tentang penyebab yang paling mendasar dari terjadinya kasus yang berulang tersebut. Siapa yang menjadi pelaku penistaan dan apa hubungan mereka dengan rezim saat ini? Ormas mana yang paling dibenci oleh rezim saat ini? Mengapa rezim sangat membenci mereka dengan memaksakan disahkannya UU PERPU ORMAS 2017? Mengapa rezim tidak mengambil tindakan apapun terhadap separatis OPM, padahal perbuatan mereka telah menelan korban jiwa TNI dan sipil? Mengapa hutang luar negeri Indonesia terus bertambah dan membebani rakyat?

Jika jawaban didapat sampai ke akar persoalan dengan memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Sehingga menjadi pemahaman baru dan opini umum diantara ulama, Habaib dan umat secara merata . Kemudian menjadi Al Furqon diantara mereka dengan rezim represif anti Islam dan penista Islam underbow mereka,

 Selanjutnya menggunakan syari'at Islam kaffah saja sebagai  standar kebenaran dan kata putus dari Pemilik alam semesta , manusia dan hidup . Sebagai pengatur kehidupan baik dalam berekonomi, sosial dan berpolitik.

Maka sampai disini Ulama, Habaib dan umat telah memiliki pemikiran dan pemahaman yang Islamiyah.

Pemahaman Islamiyah tidak akan menjadi kepribadian Islamiyah bila nafsiyah (perasaannya ) tidak Islamiyah. Demikian juga sebaliknya.

Syaksiyah Islamiyah (kepribadian) jama'ah seperti inilah yang akan mengantarkan umat Islam kepada peradaban Islamiyah. Peradaban yang rahmatan lil 'alamin.

LEVEL KETIGA ADALAH PERUBAHAN.

Ulama, Habaib dan umat Islam yang telah memiliki Syakhsiyah Islamiyah yang sama kemudian melakukan perubahan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW , dalam 4(empat) fase dengan tanpa kekerasan yaitu :
1) Tasqif (pengkaderan).
2) Tafa'ul ma'a ummah.
3). Tholabun nusroh.
4) Tafa'ul Taam.

Konsep perubahan seperti inilah yang menjadikan rezim represif anti Islam dan tuan mereka menjadi sangat benci kepada HTI dan HT pada umumnya.

Wallahu a'lam.

#Spirit212
#212HariTauhidIndonesia2016
#212HariTauhidInternasional2018

0 Response to "Spirit 212, Spirit Perubahan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

| PENERBIT PT MERDEKA MULTI MEDIA | CREATIVE 3M Media