Komnas Perlindungan Anak Prihatin Atas Meninggalnya Santri Ponpes Nurul Ikhlas - BERITAJOGJA.NET

Selasa, 19 Februari 2019

Komnas Perlindungan Anak Prihatin Atas Meninggalnya Santri Ponpes Nurul Ikhlas

Komnas Perlindungan Anak Prihatin Atas Meninggalnya Santri Ponpes Nurul Ikhlas


BERITAJOGJA.NET ■ Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa  aksi brutal  yang dilakukan 17 orang  santri Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Kabupaten Tanah Datar terhadap seorang Santri R  yang mengakibatkan korban meninggal dunia harus ditangani melalui pendekatan dan persfektif perlindungan Anak berkeadilan dan berdampak efek jerah.

Meninggalnya R (16) setelah mendapat tindak kekerasan penyiksaan secara fisik secara bertubi-tubi yang diduga  dilakukan  17 orang santri selama tiga hari beruturut tanpa henti di kamar tidurnya dimulai dari hari Kamis tanggal  7 hingga hari Minghu 10 Pebruari 2019.

Setelah korban tak berdaya dan tidak sadarkan diri akibat penyiksaan itu, kemudian korban dibawah ke RS M. Djamil Padang Panjang,  namun sayangnya nyawa korban R  tidak tertolong lagi.

Firmansyah Penanggungjawab Pondok Pesantren Nurul Ikhlas yang menampung 500 santri laki-laki dan 500 Santri perempuan ini membenarkan  bahwa peristiwa ini dimulai dengan hal sepele diantara pelaku dan korban. Peristiwa ini terjadi di kamar tidurnya pada jam tidur Santri.

Firmansyah mengakui telah terjadi kecolongan dan kelalaian pengawasan terhadap prilaku peserta didik sehingga timbul kekerasan dan penyiksaan terhadap Sanri R. 

Atas kejadian yang memiluhkan ini, Dewan Komisionet Komnas Perlindungan Anak sebutan lain Komnas Anak serta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) diseluruh Nusantara menyampaikan  keprihatinan dan turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya santri R.

Demi keadilan bagi  korban,  sekalipun R sudah meninggal dunia,  Komnas Perlindungan  Anak dengan segera berkordinasi dengan Polres Padang Panjang untuk menentukan pendekatan penanganan hukumnya.

"Saya berharap dalam waktu dekat diadakan gelar kasus agar kasus pidana yang diduga dilakukan 17 santri menjadi terang benderang," kata Arist dalam keterangan rilisnya, hari ini. (19/2).

Pria berjanggut putih ini mendorong pihak pengelola Pondok Pesantren Nurul Ikhlas bertanggungjawab atas meninggalnya R dan meminta pihak kepolisian untuk menegakkan hukum melalui pendekatan keadilan restoratif, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan UU RI Nomor : 11 Tahun 2012 tentang Sistim Peradilan Pidana Anak (SPPA) junto UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UUU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Keadilan hukum harus ditegakkan, apa yang dilakukan 17 orang santri itu tidak bisa ditoleransi dan dibenarkan," imbuh Arist.

Dengan demikian atas kejadian ini, Komnas Perlindungan Anak  mendesak agar Pondok Pesantren Nurul Ikhlas mengevaluasi sistim dan management pengelolaan proses belajar.

■ Sri Suciani 

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2017 BERITAJOGJA.NET | All Right Reserved