Pasutri Asal Yogyakarta Ditangkap Polisi




Pasutri asal Yogyakarta ditangkap di Denpasar, Bali. Sat Res Narkoba Polresta Denpasar dan Satgas CTOC Polda Bali menangkap sepasang suami istri asal Yogyakarta, Setyawan (25) dan Septiyana (22) karena menjadi tersanka pengedar sabu.

Keduanya ditangkap pada hari Senin, tanggl 9 April lalu di Jl. Gelogor Carik kota Denpasar pada pukul 20:00 WITA, dan dari tangan tersangka petugas berhasil mengamankan 732 gram sabu yang konon diakuinya berasal dari Jawa.

Pasutri ini mengaku baru sebulan menjadi kurir sabu, dengan pendapatan upah sehari sebesar 50ribu rupiah dan berhasil mengirimkan sabu sebanyak 4-5 paket dalam sehari. Total barang sabu yang berhasil mereka tempel sebanyak 55 kali dengan berat antara 0.5 - 0.8 gr per tempelan.

Atas perbuatannya itu, pasangan suami istri ini dijerat menggunakan Pasal 112 (2) UU RI No 35 Tahun 2005 tentang Narkoba dengan ancaman penjara selama minimal 5 tahun dan maksimal selama 20 tahun kurungan, dengan denda sebesar 800 juta - 8 Miliar Rupiah.

Selain Pasutri Setyawan dan Septiyana tadi ada juga Pasutri lain yang ditangkap polisi lantaran melakukan penggelapan beberapa mobil. Sepasang suami istri di Yogyakarta ini kompak melakukanpenggelapan dengan modus melakukan rental mobil. Mereka akhirnya berhasil ditangkap oleh Satreskrim Polres Sleman, Yogyakarta dengan barang bukti yang ada beberapa unit mobil.

Sebut saja inisial ST (40) seorang warga Gondomanan, Yogyakarta dengan suaminya inisial P (38) yang berasal dari Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah,  yang saat ini telah diamankan setelah sukses menggelapkan sebuah mobil Avansa dengan nopol AB 1650 LY milik Wahyu Trisno Sejati.

“Kasus penipuan ini terjadi pada bulan Agustus,” kata Wakapolres Sleman, Kompol Kasim Akbar Bantilan, di halaman Mapolres Sleman, Selasa (22/10/2019).

Polisi telah mengamankan semua barang bukti mobil milik korban beserta kuitansi penjualan yang telah dilakukan oleh tersangka. Kepada petugas, tersangka ST mengaku telah menggelapkan mobil karena merasa sangat terbentur ekonomi. ST juga mengaku sebelumnya pernah bekerja sebagai kontraktor. Akibat masalah keuangan inilah yang kemudian meyakini  mereka untuk melakukan penggelapan. Uang hasil penjualannya lalu dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mereka mengaku sudah beberapa kali melakukan aksinya dengan enam mobil lain yang digelapkan,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Rico Sanjaya menyatakan bahwa kedua tersangka melakukan berbagi peran dalam menjalankan aksinya. Tersanga ST yang mencari sasaran tempat usaha rental,  sementara P yang kemudian menjualnya ke wilayah Klaten.

Mobil tersebut laku dijual dengan harga murah sebab hanya dilengkapi dengan STNK tanpa BPKB. Atas perbuatannya itu, pasutri  ini akhirnya dijerat dengan pasal 378 KUHP dan atau pasal 372 KUHP tentang Pengelapan dengan ancaman maksimal 4 tahun penjara.



Post a Comment

0 Comments