Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Desa Wisata Kasongan, Pesona Gerabah Yang Mendunia





Apa kabar?semoga baik-baik saja ya. Aamiin..


Siapa nih di antara teman-teman yang sudah agendain liburan bareng keluarga?


Apalagi liburannya bisa sambil belajar. Ya tepatnya di Desa Wisata Kasongan yang menjadi solusi, disana bisa liburan sambil praktek langsung membuat gerabah.


Haduhh tapi sayang, Indonesia saat ini sedang dilanda bencana virus Corona atau disebutnya COVID-19. Kalau begitu lebih baiknya tunda liburan dulu ya, sebab penyebarannya melalui kontak langsung dari yang terpapar virus atau penderita. Solusinya ya kita jaga jarak dan tetap #dirumahaja dulu ya.okkee....


SEJARAH DESA WISATA KASONGAN



Sejarah desa kasongan ini cukup panjang, saya hanya mengulik sejarah dari salah seorang pedagang soto di bawah pohon beringin dekat gapura masuk desa wisata kasongan.


Beliau ini sudah berdagang sejak disana belum dikenal wisatawan asing, bahkan hingga sekarang. Tentunya bayak yang saya gali informasi darinya.


Konon katanya Sejarah Desa Wisata Kasongan berawal dari kematian seekor kuda milik Reserse Belanda, yang mati diatas persawahan milik seorang warga.


Karena si pemilik takut dijatuhi hukuman oleh pihak belanda, maka sejumlah tanah itu diakui oleh warga desa lain.


Penduduk yang sebelumnya tidak memiliki tanah persawahan akhirnya bisa melakukan kegiatan baru disekitar rumahnya.


Dengan cara mengolah tanah liat yang ternyata diketahui tidak pecah jika diempal-empalkan untuk perlengkapan dapur dan juga untuk membuat mainan.


Sejalan zaman semakin berkembang, lambat laun barang-barang kerajinan yang dikenal dengan kesenian gerabah atau tembikar dikembangkan dengan bentuk yang bervariatif yang tentunya sesuai keinginan dan kebutuhan pasar.


Dari keperluan rumah tangga hingga souvenir pernikahan bahkan oleh-oleh khas dari bantul.


Menuju peradaban modern warga kasongan juga memanfaatkan bahan yang ada di sekitaran lingkungan untuk di buat kesenian indah dengan kualitas produk dengan harga yang sangat tinggi. Seperti halnya batok kelapa, kayu, rotan, bambu dan lainnya, yang diolah menjadi hiasan rumah.


Di Desa Kasongan ini juga memiliki patung yang legendaris yang dinamakan patung Loro Blonyo. 


Loro Blonyo adalah patung sepasang pengantin yang dipercaya akan memberikan keuntungan jika ditaruh didalam rumah.


Patung ini dapat dijumpai dalam berbagai pose. Patung ini dikenalkan pertama kali oleh Galeri Loro Blonyo yang diadopsi dari patung pengantin milik Kraton Yogyakarta.


KONDISI PASCA GEMPA JOGJA 


Desa Wisata Kasongan ini sangat terkenal oleh wisatawan asing, bisa dikatakan perkonomian warga Desa Kasongan sangat bergantung oleh wisatawan asing.


Kenapa dikatakan begitu? Sebab ya peminatnya sebagian besar adalah wisatawan asing, setiap harinya ada 1-2 truck trailer yang terparkir di depan showroom disana.


Pada masa itu adalah titik kejayaan warga disana, hingga akhirnya terjadi bencana gempa bumi yang sangat luar biasa, meluluh lantahkan hampir seluruh bangunan.


Desa kasongan yang letaknya tidak jauh dari titik gempa, banyak bangunan yang roboh dan tidak sedikit warga yang kehilangan asset dan harta benda berupa showroom dan lainya.


Pasca gempa 14 tahun silam perputaran perekonomian di Desa Kasongan belum sepenuhnya membaik, banyak yang masih mengeluhkan sepinya shoroom mereka yang biasanya hampir setiap hari tidak ada sepinya.


Kini juga terlihat deretan showroom-showroom yang tutup sebab pengasilan yang tidak sebanding dengan sewanya. ya tidak semuanya begitu saya masih melihat truck yang memuat barang untuk dikirim.

Untuk mengembalikan keadaan seperti dulu tentunya tidak mudah, tapi dengan seiringnya waktu bisa kembali berjaya seperti dulu.




LOKASI


Desa wisata kasongan itu terletak di kota yogyakarta tepatnya di Pedukuhan Kajen, Desa Bagunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 


Jika teman-teman berangkat dari arah malioboro menggunakan kendaraan pribadi, teman-teman jalan menuju selatan hingga tiba di ringroad Dongkelan (perempatan ringroad jalan Bantul).


Pilihlah arah jalan melewati jalan bantul, jalan terus hingga sampai lampu merah perempatan lalu belok kanan, teman-teman sudah disambut gapura yang menandakan sudah memasuki Desa Kasongan.


Jika teman-teman naik kendaraan umum, dari terminal giwangan yogyakarta, teman-teman cukup naik minibus trayek jogja-bantul-wates atau jogja-bantul-brosot. Hanya dua trayek bus ini yang melewati desa kasongan. Untuk tarif Rp10.000 aja kok..

Post a Comment for "Desa Wisata Kasongan, Pesona Gerabah Yang Mendunia"

Berlangganan via Email